About Me

Minggu, 18 Desember 2011

PERADABAN ISLAM PADA MASA DAULAH BANI UMAYYAH (40-132H / 661-750M)



A.    Pendahuluan
Setelah khalifah Ali bin Abi Thalib tewas dibunuh oleh Abdur Rahman bin Muljam, penduduk Kufah yang mayoritas pendukung Ahlul Bayt mengangkat Hasan bin Ali menjadi khalifah. Sedangkan di pihak lain Muawiyah bin Abu Sufyan juga memproklamirkan diri sebagai khalifah di kota Yerusalem[1].
Proses perpindahan periode kekuasaan dari Ali bin Abi Thalib (khalifah rasyidin ke-4) kepada Daulah Bani Umayyah ini dicatat sejarah sarat “makna” dan “intriks” sehingga patut dicermati dan dikaji lebih mendalam. Tidak hanya itu, pergulatan politik yang terjadi pada awal berdiri Daulah Bani Umayyah hingga perkembangan dan perubahan sistem khilafah menjadi daulah sangat menarik untuk ditelaah.
Namun kita juga tidak dapat menutup mata, meskipun terdapat berbagai persoalan yang terjadi waktu itu, Daulah Bani Umayyah yang berkuasa lebih kurang selama 90 tahun (40-132H/661-750M), juga telah memberikan kontribusi yang besar dalam membangun Peradaban Islam di dunia. Banyak kemajuan yang telah tergores dalam peradaban Islam oleh Daulah Bani Umayyah, di antaranya bidang Politik, Pemerintahan, Militer, Ekonomi (perdagangan), Sosial Kemasyarakatan, Pendidikan (Iptek), Kesenian, Pemikiran, Filsafat, serta Pemahaman Keagamaan.
Di samping sebagai tugas perkuliahan Sejarah dan Peradaban Islam pada Program Pascasarjana, hal inilah yang membuat pemakalah tertarik untuk membahas tentang Daulah Bani Umayyah. Mulai dari latar belakang berdirinya, kemajuan peradaban yang dicapai hingga sebab-sebab kemunduran dan keruntuhan Daulah Bani Umayyah akan pemakalah urai pada makalah ini.
B.     Latar Belakang Berdiri Daulah Bani Umayyah
1.      Daulah Bani Umayyah
Berbeda dengan sebelumnya dalam penamaan pemerintahan, Bani Umayyah tidak memakai kata khalifah, melainkan memakai kata daulah. Secara bahasa memiliki arti kerajaan atau dinasti[2].
Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi perbedaan sistem pemerintahan, salah satu indikasinya tampak dalam cara memilih pucuk kepemimpinan yaitu monarchi (dengan menunjuk anaknya sebagai putera mahkota), sedangkan pada masa sebelumnya (khulafa rasyidin) pemilihan pemimpin dilakukan dengan pemilihan secara umum dengan melibatkan ahlul halli wal ‘aqd[3].
Bani Umayyah artinya keturunan Umayyah. Umayyah adalah seorang pemuka Qurays pada zaman Jahiliyah[4]. Nama lengkapnya Umayyah bin Abd Syams bin Abd Manaf[5]. Abd Syams adalah saudara dari Hasyim. Umayyah segenerasi dengan Abdul Muthalib bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad SAW dan Ali bin Abi Thalib[6].
Sebelum Islam datang, keturunan Abd Syams dan Hasyim bukanlah dua kubu yang berlawanan. Keduanya hidup berdampingan, masing-masing memiliki peran penting pada masa Jahiiliyah. Sama-sama keturunan Qusay bin Kilab.
Ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul, membawa risalah Tuhan, beliau mengajak kaumnya untuk masuk Islam. Namun beliau mendapat perlawanan keras dari keturunan Abd Syam. Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah (segenerasi dengan Nabi Muhammad SAW) saat itu memangku posisi pimpinan, ikut mengadakan perlawanan kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan dari pihak mayoritas keluarga Hasyim membela Nabi Muhammad SAW.
Perselisihan ini terus terjadi hingga terjadi Fathu Makkah pada 8 Hijriyah. Di mana Nabi Muhammad SAW memberikan “keististimewaan” kepada Abu Sufyan dengan terjaminnya keamanan diri bagi penduduk yang berlindung di rumah Abu Sufyan. Maka redamlah perselisihan yang ada pada kala itu.
Di zaman kekhalifahan Abu Bakar Shiddiq, Yazid bin Abu Sufyan ikut serta dalam memberantas kaum murtadin dan ia ditunjuk menjadi salah seorang pemimpin untuk invansi ke Syam. Kepemimpinan Yazid di Syam terus berlanjut hingga zaman khalifah Umar bin Khattab. Setelah Yazid meninggal, Umar menunjuk saudara Yazid yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai gantinya. Dari sinilah Muawiyah memulai karir kepemimpinannya.

2.      Biografi Muawiyah
Muawiyah bin Abu Sufyan lahir di Mekah 15 tahun sebelum hijrah. Ia masuk Islam ketika terjadi fathu makkah. Saat itu ia baru berusia 23 tahun[7]. Ia juga menjadi salah seorang periwayat hadis yang baik. Ia memiliki 4 orang istri.
Pada zaman Abu Bakar Shiddiq, ia ikut menemani saudaranya Yazid dalam memimpin penumpasan terhadap kaum murtadin. Pada zaman Umar bin Khattab, ia baru ditunjuk memimpin Damaskus (Suriah) menggantikan Yazid yang meninggal dunia. Pada zaman Usman bin Affan, Muawiyah memimpin daerah Syam.

3.      Proses Terpilihnya Muawiyah dan Berdirinya Daulah
Ketika Ali bin Abi Thalib terbunuh, masyarakat membai’at puteranya, Hasan bin Ali, menjadi khalifah. Akan tetapi, pemerintahan Hasan bin Ali hanya bertahan beberapa bulan saja. Melihat kondisi pada masa itu, Hasan memiliki keinginan untuk menyatukan seluruh umat Islam. Hal ini membuat ia menyerahkan pemerintahan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan. Hasan bin Ali tidak menginginkan peperangan berkepanjangan yang meminta banyak korban jiwa di kalangan umat Islam.
Peristiwa penyerahan kekuasaan dari Hasan bin Ali kepada Muawiyah bin Abu Sufyan itu terkenal dengan sebutan amul jama’ah (tahun penyatuan)[8]. Peristiwa itu terjadi pada tahun 41 H atau 661 M. Sejak saat itu, secara resmi pemerintahan Islam disandang oleh Muawiyah bin Abu Sufyan. Ia kemudian memindahkan pusat kekuasaan dari Madinah ke Damaskus (Suriah).
Bani Umayyah memegang kekuasaan Islam selama sembilan puluh tahun dengan pusat pemerintahan di Damaskus. Selama kurun waktu tersebut pemerintahan di pegang oleh empat belas orang khalifah[9]. Khalifah-khalifah itu adalah sebagai berikut:
a)      Muawiyah bin Abu Sufyan (Muawiyah I) - (661M-680M)
b)      Yazid bin Muawiyah (Yazid I) - (680M-683M)
c)      Muawiyah bin Yazid (Muawiyah II) - (683M-684M)
d)     Marwan bin Hakam (Marwan I) - (684M-685M)
e)      Abd Malik bin Marwan - (685M-705M)
f)       Walid bin Abd Malik (Walid I) - (705M-715M)
g)      Sulaiman bin Abd Malik - (715M-717M)
h)      Umar bin Abdul Aziz (Umar II) - (717M-720M)
i)        Yazid bin Abd Malik (Yazid II) - (720M-724M)
j)        Hisyam bin Abd Malik - (724M-743M)
k)      Walid bin Yazid (Walid III) - (743M-744M)
l)        Yazid bin Walid (Yazid III) - (744M)
m)    Ibrahim bin Walid - (744M)
n)      Marwan bin Muhammad (Marwan II) - (744M-750M)

C.    Kemajuan Peradaban Islam Masa Daulah Bani Umayyah
1.      Politik / Pemerintahan / Militer
a)      Politik
Kondisi perpolitikan pada masa awal Daulah Bani Umayyah cenderung stabil. Muawiyah dengan kemampuan politiknya mampu meredam gejolak-gejolak yang terjadi. Hingga ia mengangkat anaknya Yazid menjadi penggantinya, barulah terjadi pergolakan politik.
Di antara kebijakan politik yang terjadi pada masa Daulah Bani Umayyah adalah terjadinya pemisahan kekuasaan antara kekuasaan agama (spritual power) dengan kekuasaan politik[10]. Amirul Mu’minin hanya bertugas sebagai khalifah dalam bidang politik. Sedangkan urusan agama diurus oleh para ulama.

b)     Pemerintahan
1)      Perubahan Sistem Pemerintahan
Bentuk pemerintahan Muawiyah berubah dari Theo-Demokrasi menjadi monarchi (kerajaan/dinasti) sejak ia mengangkat anaknya Yazid sebagai Putera Mahkota. Kebijakan ini dipengaruhi oleh tradisi yang terdapat di bekas wilayah kerajaan Bizantium.

2)      Sentralistik
Daulah Bani Umayyah menerapkan konfederasi propinsi. Dalam menangani propinsi yang ada, Muawiyah menggabung beberapa wilayah menjadi satu propinsi. Setiap gubernur memilih Amir. Amir bertanggung jawab lansung kepada khalifah.

3)      Administrasi pemerintahan
Setidaknya ada empat diwan (departemen) yang berdiri pada Daulah Bani Umayyah, yaitu:
(i)     Diwan Rasail
Departemen ini mengurus surat-surat negara kepada gubernur dan pegawai di berbagai wilayah

(ii)   Diwan Kharraj
Departemen ini mengurus tentang perpajakan. Dikepalai oleh Shahibul Kharraj yang bertanggung jawab lansung kepada khalifah

(iii) Diwan Jund
Departemen ini mengurus tentang ketentaraan negara. Ada juga yang menyebut dengan departemen perperangan.

(iv) Diwan Khatam
Departemen ini disebut juga departemen pencatat. Setiap peraturan yang dikeluarkan disalin pada sebuah register kemudian disegel dan dikirim ke berbagai wilayah.

4)      Lambang Negara
Muawiyah menetapkan bendera merah sebagai lambang negara di mana sebelumnya pada masa Khulafa Rasyidin belum ada. Bendera merah ini menjadi ciri khas Daulah Bani Umayyah[11].

5)      Bahasa Resmi Administrasi Pemerintahan
Pada pemerintahan Abd Malik, bahasa Arab dijadikan bahasa resmi administrasi pemerintahan.

c)      Militer
1)      Undang-undang Wajib Militer
Daulah Bani Umayyah memaksa orang untuk masuk tentara dengan membuat undang-undang wajib militer (Nizham Tajnid Ijbary). Mayoritas adalah berasal dari orang Arab.

2)      Futuhat/Ekspansi (Perluasan Daerah)
Perluasan ke Asia kecil dilakukan Muawiyah dengan ekspansi ke imperium Bizantium dengan menaklukkan pulau Rhodes dan Kreta pada tahun 54 H. Setelah 7 tahun, Yazid berhasil menaklukkan kota Konstantinopel
Perluasan ke Asia Timur, Muawiyah menaklukkan daerah Khurasan-Oxus dan Afganistan-Kabul pada tahun 674 M. Pada zaman Abd Malik, daerah Balkh, Bukhara, Khawarizan, Ferghana, Samarkand dan sebagian india (Balukhistan, Sind, Punjab dan Multan). Perluasan ke Afrika Utara, dikuasainya daerah Tripoli, Fazzan, Sudan, Mesir (670 M).
Perluasan ke barat pada zaman Walid mampu menaklukkan Jazair dan Maroko (89 H). Tahun 92 H Thariq bin Ziyad sampai di Giblaltar (Jabal Thariq). Tahun 95 H Spanyol dikuasai. Cordova terpilih menjadi ibukota propinsi wilayah Islam di Spanyol.

2.      Ekonomi dan Perdagangan
a)      Sumber Pendapatan dan Pengeluaran Pemerintah
Sumber uang masuk pada zaman Daulah Bani Umayyah sebagiannya diambil dari Dharaib yaitu kewajiban yang harus dibayar oleh warga negara. Di samping itu, bagi daerah-daerah yang baru ditaklukkan, terutama yang belum masuk Islam, ditetapkan pajak istimewa.
Namun, pada masa Umar bin Abdul Aziz, pajak untuk non muslim dikurangi, sedangkan jizyah bagi muslim dihentikan. Kebijakan ini mendorong non muslim memeluk agama Islam.
Adapun pengeluaran pemerintah dari uang masuk tersebut adalah sebagai berikut:
1)      Gaji pegawai, tentara dan biaya tata usaha negara
2)      Pembangunan pertanian termasuk irigasi dan penggalian terusan
3)      Ongkos bagi terpidana dan tawanan perang
4)      Perlengkapan perang
5)      Hadiah bagi sastrawan dan ulama

b)     Mata Uang
Pada masa Abd Malik, mata uang kaum muslimin dicetak secara teratur. Pembayaran diatur dengan menggunakan mata uang ini. Meskipun pada Masa Umar bin Khattab sudah ada mata uang, namun belum begitu teratur[12].
3.      Sosial Kemasyarakatan
a)      Panti Sosial Penyandang Cacat
Ketika Walid naik tahta, ia menyediakan pelayannan khusus. Orang cacat diberi gaji. Orang buta diberikan penuntun. Orang lumpuh disediakan perawat. Ia juga mendirikan bangunan khusus untuk pengidap penyakit kusta agar mereka dirawat sesuai dengan persyaratan standar kesehatan.

b)     Arab dan Mawali
Masyarakat dunia Islam begitu luas sedangkan orang-orang Arab merupakan unsur minoritas. Meskippun demikian, mereka memegang peranan penting secara sosial. Muslim Arab menganggap bahwa mereka lebih baik dan lebih pantas memegang kekuasaan dari muslim non Arab. Muslim non Arab kala itu disebut Mawali.
Mulanya mawali adalah budak tawanan perang yang dimerdekakan. Belakangan istilah mawali diperuntukan bagi semua muslim non Arab[13].

4.      Pendidikan
Daulah Bani Umayyah tidak terlalu memperhatikan bidang pendidikan, karena mereka fokus dalam bidang politik. Meskipun demikian, Daulah Bani Umayyah memberikan andil bagi pengembangan ilmu-ilmu agama Islam, sastra dan filsafat.
Daulah menyediakan tempat-tempat pendidikan antara lain:
a)         Kuttab
Kuttab merupakan tempat anak-anak belajar menulis dan membaca, menghafal Alquran serta belajar pokok-pokok ajaran Islam
b)        Masjid
Pendidikan di masjid merupakan lanjutan dari kuttab. Pendidikan di masjid terdiri dari dua tingkat. Pertama, tingkat menengah diajar oleh guru yang biasa saja. Kedua, tingkat tinggi yang diajar oleh ulama yang dalam ilmunya dan masyhur kealimannya.


c)         Arabisasi
Gerakan penerjemahan ke dalam bahasa Arab (arabisasi buku) pada masa Marwan gencar dilakukan. Ia memerintahkan untuk menerjemahkan buku-buku yang berbahasa Yunani, Siria, Sansekerta dan bahasa lainnya ke dalam bahasa Arab.
d)        Baitul Hikmah
Baitul hikmah merupakan gedung pusat kajian dan perpustakaan. Perhatian serta pelestarian berbagai sarana dan aktifitas di gedung ini terus menjadi perhatian dalam perjalanan Daulah Bani Umayyah hingga masa Marwan.
5.      Kesenian
a)      Majelis Sastra
Majelis sastra adalah tempat atau balai pertemuan untuk membahas kesusasteraan dan juga tempat berdiskusi mengenai urusan politik yang disiapkan dan dihiasi dengan hiasan yang indah. Majelis ini hanya diperuntukkan bagi sastrawan dan ulama terkemuka.
b)     Arsitektur
Dalam bidang seni arsitektur, para khalifah mendukung perkembangannya, seperti pembuatan menara pada periode Muawiyah, kubah ash-Shakhra pada periode Abd Malik. Kubah ini tercatat sebagai contoh hasil karya arsitektur muslim yang termegah kala itu. Bangunan tersebut merupakan masjid yang pertama sekali ditutup dengan kubah.
6.      Pemikiran dan Filsafat
Alam pemikiran zaman Daulah Bani Umayyah relatif berkembang pesat. Indikasinya adalah lahirnya Khawarij dan Murjiah, Jabariyah dan Qadariyah, serta Mu’tazilah. Aliran pemikiran ini tumbuh bak jamur di musim hujan.
Munculnya aliran-aliran ini patut diapresiasi sebagai khazanah bagi spektrum dunia pemikiran Islam. Indahnya keberagaman itu terasa apabila fokus pandangan kita kepada kelebihan aliran masing-masing dan tidak saling merendahkan satu sama lain. Bagaimanapun juga, para penganut aliran tersebut telah membuat sesuatu bagi peradaban Islam.

7.      Pemahaman Keagamaan
Pemahaman keagamaan, khususnya di bidang Fiqh, terdapat dua golongan yaitu Ahlu Ra’yi dan al-Hadis. Ahlu Ra’yi mengembangkan hukum Islam dengan menggunakan analogi atau qiyas. Sedangkan al-Hadis lebih berpegang kepada nash-nash, bahkan mereka tidak akan memberikan fatwa jika tidak ada ayat Alquran dan Hadis yang menjelaskannya.
Pada priode ini juga lahir sejumlah mujtahid fiqh. Di antaranya adalah lahirnya mazhab Imam Abu Hanifah di Irak dan Imam Malik bin Anas di Madinah.
Pada masa ini juga berkembang Ilmu tafsir. Ilmu tafsir memiliki peran yang strategis. Di samping karena daerah Islam semakin luas sampai di daerah luar Arab, juga karena semakin banyaknya pemeluk agama Islam.
Perluasan dan non arab ini, secara tidak lansung, dapat menyebabkan ‘tercemarnya’ bahasa Alquran. Karena tidak semua orang yang mempelajari Alquran pure untuk kebaikan. Ada maksud lain yang memboncengi mereka[14].
Selain Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis juga mendapatkan perhatian yang khusus. Umar bin Abul Aziz menjadi tokoh utama dibalik semuanya. Dengan memerintahkan kepada seluruh pemangku kepentingan untuk menulis dan mengumpulkan hadis Nabi Muhammad SAW telah melahirkan metode pendidikan alternative yaitu rihlah, di mana para ulama mencari hadis ke berbagai tempat dan orang.
Pada daulah inilah kitab tentang ilmu hadis disusun oleh para ulama muslim. Beberapa ulama yang terkenal pada masa itu adalah Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab az-Zuhri, Ibnu Abi Malikah (Abdullah bin Abi Malikah at-Tayammami al-Makky), al-‘Auza’i Abdurrahman bin Amr, dan Hasan Basri as-Sya’bi

D.    Kemunduran dan Keruntuhan Daulah Bani Umayyah
Sepeninggal Umar bin Abdul Aziz, kekuasaan Bani Umayyah dilanjutkan oleh Yazid bin Abd Malik (720-724M). Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ketenteraman dan kedamaian, pada masa itu berubah menjadi kacau. Dengan latar belakang dan kepentingan etnis politis, masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap pemerintahan Yazid bin Abd Malik cendrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat.
Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah berikutnya, Hisyam bin Abd Malik (724-743 M). Bahkan pada masa ini muncul satu kekuatan baru dikemudian hari menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan mawali. Walaupun sebenarnya Hisyam bin Abd Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi ini semakin kuat, sehingga tidak berhasil dipadamkannya.
Setelah Hisyam bin Abd Malik wafat, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang menjadi khalifah berikutnya bukan hanya lemah dalam politik, tetapi juga bermoral buruk. Hal ini semakin memperkuat golongan oposisi. Dan akhirnya, pada tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan oleh Bani Abbasiyah yang merupakan bagian dari Bani Hasyim.
Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah, melarikan diri ke Mesir, namun kemudian berhasil ditangkap dan terbunuh di sana.
Kematian Marwan bin Muhammad menandai berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah di timur (Damaskus) yang digantikan oleh Daulah Abbasiyah[15].
Ada beberapa faktor yang menyebabkan Daulah Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain adalah:
1.      Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.
2.      Latar belakang terbentuknya Daulah Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Kelompok Syi'ah (para pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
3.      Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Di samping itu, sebagian besar golongan mawali (non Arab), terutama di Irak dan wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puas karena status mawali, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.
4.      Lemahnya pemerintahan daulah Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan.
5.      Kelemahan pemerintahan pusat dalam mengendalikan dan mengontrol wilayah yang amat luas.
6.      Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan Daulah Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Abbas bin Abdul Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi'ah, serta dukungan dari kaum mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.

E.     Kesimpulan dan Saran
1.      Kesimpulan
Selama lebih kurang 90 tahun Daulah Bani Umayyah berkuasa tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Diawali dengan proses pemindahan kekuasaan. Mulai dari ketidaksukaan terhadap Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, peristiwa tahkim, hingga Ali terbunuh, amul jama’ah yang dilakukan Hasan bin Ali.
Dilanjutkan dengan selama berkuasa 90 tahun. Sistem pemerintahan yang monarchi, diskriminasi terhadap mawali, pemerintahan ‘tangan besi’, serta kemajuan-kemajuan yang telah diraih. Berakhir dengan runtuhnya kekuasaan Daulah Bani Umayyah dengan kematian Marwan bin Muhammad. Mengisyaratkan bahwa tak ada yang abadi di dunia ini.
Apresiasi kita terhadap raihan yang baik oleh para pendahulu adalah hal yang utama. Kita tidak perlu mencerca keburukannya, malahan ini menjadi cambuk bagi kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama seperti kesalahan mereka.

2.      Saran
Penulis paham bahwa menceritakan kembali yang telah terjadi selama 90 tahun tentu bukan hal yang mudah. Kedangkalan ilmu penulis menyebabkan studi makalah ini juga dangkal. Kritik dan saran pembaca akan membuat studi Daulah Bani Umayyah ini akan menjadi mendalam.

Daftar Pustaka


Alkhudhary, Muhammad. Daulah Umawiyah. 2000. Tharablus: Majlis Idarah Jamiah Mishriyah
Chair, Abd. Dkk. Ensklopedi Tematis Dunia Islam. 2003. Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoseve
Chalil, Munawar. Empat Biografi Imam Mazhab. 1989. Jakarta: Bulan Bintang
Harun, Maidir dan Firdaus. Sejarah Peradaban Islam. 2001. Padang: IAIN IB Press
Ibrahim Husen, Ali. An-Nazham al-Islamiyah. 1953. Kairo: Lajnah Ta’lif wa Tarjim wa Nasyr.
Munawwir, A.W. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap. 1997. Surabaya: Puataka Progresif
Syalabi, Ahmad. Sejarah dan Kebudayaan Islam. 1971. Jakarta: Jaya Murni
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. 1993. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada



[1] Maidir Harun dan Firdaus, Sejarah Peradaban Islam, (Padang: IAIN IB Press, 2001), h.75-76
[2] A.W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, (Surabaya: Puataka Progresif, 1997), h.434
[3] Muhammad Alkhudhary, Daulah Umawiyah, (Tharablus:Majlis Idarah Jamiah Mishriyah, 2000) h.330
[4] Ibid. h.327
[5] Abd Chair, Dkk, Ensklopedi Tematis Dunia Islam. (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoseve, 2003) h. 67
[6] Maidir Harun dan Firdaus, Op. Cit. h. 79
[7] Muhammad Alkhudhary, Op. Cit, h. 330
[8] Maidir Harun dan Firdaus, Op. Cit. h. 78
[9] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1993), h.40
[10] Ali Ibrahim Husen, An-Nazham al-Islamiyah, (Kairo: Lajnah Ta’lif wa Tarjim wa Nasyr, 1953), h. 30-31.
[11] Badri Yatim, Op. Cit, h.43
[12] Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Jaya Murni, 1971), h.46
[13] Maidir Harun dan Firdaus, Op. Cit. h. 89
[14] Munawar Chalil, Empat Biografi Imam Mazhab, (Jakarta: Bulan Bintang, 1989), h.23
[15] Maidir Harun dan Firdaus, Op. Cit. h. 102

1 komentar:

  1. Trimakasih y Mas???
    Semoga bisa bermanfaat bagi ku...

    BalasHapus